Membaca buku ini serasa memeras kantung air mata. Bagaimana perjuangan seorang Delisa untuk menghafalkan bacaan shalat. Dia yang begitu bersemangat menghafalkannya tak diizinkan oleh sang Kuasa untuk menyelesaikan shalatnya dengan bacaan yang lengkap untuk pertama kali lantaran diterjang ganasnya tsunami Aceh 2006.
Suatu bukti keagungan-Nya yang membuat Delisa masih diberi kesempatan untuk hidup dan menuntaskan hafalannya. Namun naasnya, seluruh hafalan shalat yang pernah ia hafalkan hilang seluruhnya. Ditambah dengan meninggalnya ibu beserta ketiga orang kakaknya dalam musibah itu, Delisa terpaksa harus menjadi dewasa sebelum waktunya (ia berumur 6 tahun). Cacat akibat tsunami juga telah merenggut beberapa bagian tubuhnya.
Delisa masih terus bergelut dengan hafalan shalatnya karena ia begitu ingin melaksanakan shalat dengan sempurna. Tapi rintangan besar masih saja menghalangi usahanya untuk menghafal. Bacaan-bacaan yang tertulis dalam bahasa Arab di buku yang diberikan oleh suster yang merawatnya seolah menolak untuk dihafal oleh Delisa.
Ada apa sebenarnya di balik semua ini? Akankah Delisa dapat menghafalkan seluruh bacaan shalat itu? Bagaimana ia menanggulangi kesedihan dan kerinduannya akan keluarganya?
Saya sangat menganjurkan Anda untuk membaca buku karangan Tere-Liye ini. Dari sini kita dapat mengambil berbagai hikmah tentang keikhlasan, ketulusan, dan masih banyak lagi. Tere-Liye yang menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia telah menyuguhkan sebuah cerita yang sangat menggugah. Dengan gaya bercerita yang tidak menggurui, dia dapat menyampaikan pesan-pesan moral dengan sangat halus.
belum baca, tapi memang rekomendasi dari temen bagus,..
memang bagus, Bang! apalagi saat bilang, "Aku sayang Ummi karena Allah...," wuih deh. Didukung sama deskripsi settingnya sangat menggambarkan suasana saat itu. Perjuangan untuk beribadah dengan sebenar-benarnya.