Beberapa hari terakhir ini, saya sering terbangun di tengah malam dan tergerak untuk mendengarkan siaran radio Pro3 RRI dengan jargonnya "Jaringan Berita Nasional". Tampaknya isu kenaikan harga minyak tanah tengah menjadi berita hangat. Dampak dari kenaikan harga minyak tanah ini terasa lebih banyak menyengsarakan rakyat daripada tercapainya tujuan yang diharapkan oleh pemerintah. Program konversi dari minya tanah ke gas yang dicanangkan ternyata bukan merupakan solusi bagi rakyat berpenghasilan rendah.
“Ya, kalau minyak tanah kan bisa diecer setengah sampai satu liter ya saya masih nyandhak, Kalau gas kan untuk ke depannya kita harus beli sendiri, langsung satu tabung. Nggak bisa ngecer-ngecer. Saya nggak nyandhak itu.. Lha kalau minyak tanah ini naik harganya, saya harus bagaimana?” demikian komentar seorang ibu di Bantul terkait kenaikan harga minyak tanah.
Beberapa pengusaha kecil yang menggunakan minyak tanah pun mengalami dilema. Dengan harga minyak tanah yang berkisar antara Rp2.700,00 – Rp3.000,00 ini, mereka masih bisa bertahan untuk tidak menaikkan harga jual produknya. Namun bagaimana bila harga minyak tanah mencapai Rp8.000,00, sementara harga bahan-bahan pokok juga terus melambung?
“Mau tetep nggak dinaikkan ya gimana… mau dinaikkan juga takut nggak laku,” ibu Ginuk, pengusaha pia-pia di Solo, menuturkan dilema usahanya. Komentar serupa juga diungkapkan oleh beberapa pengusaha kecil lainnya.
Menanggapi isu ini, seorang pendengar mengusulkan kenaikan Upah Minimum Regional (UMR) sebagai solusinya. Hal tersebut tentunya juga harus diikuti dengan diperluasnya lapangan pekerjaan. Bila perekonomian masyarakat sudah mapan, maka kenaikan harga pun tidak akan menjadi suatu masalah yang besar.
* * *
Sapi!
Itulah yang muncul dalam pikiran saya sebagai solusi dari masalah ini. Nggak nyambung? Eits, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan.
Saya teringat akan sebuah desa di Salatiga yang pernah saya observasi dalam menyusun sebuah karya tulis. Dalam benak saya, masyarakat dari desa yang terkenal dengan sekolah alternatif Qaryah Thayyibah itu Insya Allah akan tetap adhem tentrem tidak terpengaruh dengan kenaikan harga gas dan minyak tanah. Apa lantaran? Karena sapi.
Seyogyanya, pemerintah mulai mempertimbangkan untuk menggalakkan pengembangan peternakan sapi. Dari sapi, beberapa persoalan bangsa ini Insya Allah akan dapat teratasi. Nggak percaya?
Jawabannya adalah biogas. Begini penjelasannya. Pemerintah cukup memberikan subsidi untuk pembangunan instalasi penampungan biogas di beberapa daerah yang memiliki ketergantungan pada minyak tanah. Biaya yang dikeluarkan relatif kecil mengingat desa yang saya sebut sebelumnya dapat membiayai pembangunan instalasi tersebut secara mandiri. Instalasi ini, bila tidak dikorupsi oleh oknum tertentu, dapat bertahan hingga 20 tahun. Selama kurun waktu tersebut, produksi biogas yang hakekatnya adalah gas methan dan dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak, akan dihasilkan secara kontinu.
Lalu bagaimana dengan daerah yang tidak memungkinkan untuk dikembangkannya peternakan sapi secara efisien? Jangan khawatir. Cukuplah daerah tersebut diberikan “sumbangan” berupa kotoran sapi sebagai pemicu perkembangan bakteri Methanococcus penghasil gas methan. Selanjutnya, bahan pokok biogas tersebut dapat digantikan dengan (maaf) kotoran manusia.
Gas methan yang dihasilkan dari kotoran sapi ini selain renewable, juga ramah lingkungan. Limbah dari bahan pokoknya dapat dialirkan ke sawah atau kebun untuk menyuburkan tanah. Pun penduduk dapat menambah penghasilan dari pupuk yang diolah dari limbah tersebut. Sementara itu, kadar karbon yang dihasilkan dari pembakaran gas methan sangatlah kecil, mendekati proses pembakaran sempurna. Jikalau biogas ini bocor, tidak akan berbahaya karena bukan merupakan gas beracun. Bahkan daur gas ini sangat simple sesuai dengan siklus nitrogen yang dilakukan oleh bakteri-bakteri nitrogen (penjelasan lebih lanjut bisa dilihat di buku Biologi SMA Kelas X Kurikulum Berbasis Kompetensi :P).
Dari penjelasan di atas, sudah ada dua permasalahan yang teratasi: bahan bakar dan lingkungan. Tapi masih ada satu lagi yang dapat diatasi dengan dikembangkannya peternakan sapi, yaitu permasalahan gizi buruk. Dengan dikembangkannya peternakan sapi, susu sapi akan dapat diperoleh dengan mudah dan dengan harga yang lebih terjangkau. Kandungan yang terdapat di dalam susu sangatlah bermanfaat dalam pemenuhan nutrisi yang diperlukan oleh tubuh, apalagi pada anak-anak. Pemenuhan gizi sangat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dan kecerdasan otak. Hal ini tentunya sangatlah penting untuk diperhatikan, terutama pada anak-anak, karena anak-anak adalah calon-calon pemimpin bangsa